BAB 4 - Sifat-sifat Udara Pengering
Han Oktariansyah ~ 05021181520015
Syaeful Arifin ~ 05021181520014
Wahyu Surya ~ 05021381520058
Cindy Claudia ~ 05021381520049
Psychrometric Chart merupakan hasil karya jenius peninggalan kakek moyang kita yang berhubungan dengan karakteristik udara. Chart Psikometrik merupakan tampilan secara grafikal sifat thermodinamik udara antara lain suhu, kelembaban, enthalpi, kandungan uap air dan volme spesifik. dalam Chart ini dapat langsung diketahui hubungan antara berbagai parameter udara secara cepat dan persisi, baik yang berkatan dengan sifat fisik udara maupun sifat thermiknya.
7 (tujuh) parameter udara trpenting yang digunakan untuk keperluan perancangan air conditioning . Chart yang digunakan sebagai acuan adalah chart psikometrik yang disusun oleh Carrier dengan mengacu pada kondisi atmosfir normal.
1. Dry-bulb Temperature (DB)
Dry-bulb (DB) adalah suhu udara ruangan yang diperoleh melalui pengukuran dengan Slink Psikrometer pada theremometer dengan bulb kering. Suhu DB diplotkan sebagai garis vertikal yang berawal dari garis sumbu mendatar yang terletak di bagian bawah chart. Suhu DB ini merupakan ukuran panas sensibel. Perubahan suhu DB menunjukkan adanya perubahan panas sensibel.
2. Wet-bulb Temperature (WB)
Wet-bulb (WB) adalah suhu udara ruang yang diperoleh melalui pengukuran dengan Slink Psikrometer pada theremometer dengan bulb basah. Suhu WB diplotkan sebagai garis miring ke bawah yang berawal dari garis saturasi yang terletak di bagian samping kanan chart. Suhu WB ini merupakan ukuran panas total (enthalpi). Perubahan suhu WB menunjukkan adanya perubahan panas total.
3. Dew-point Temperature (DP)
Suhu Dew-bulb adalah suhu di mana udara mulai menunjukkan aksi pengembunan ketika didinginkan. Suhu DP ditandai sebagai titik sepanjang garis saturasi. Pada saat udara ruang mengalami saturasi (jenuh) maka besarnya suhu DB sama dengan suhu WB demikian pula suhu DP. Suhu DP merupakan ukuran dari panas laten yang diberikan oleh sistem. Adanya perubahan suhu DP menunjukkan adanya perubahan panas laten atau adanya perubahan kandungan uap air di udara.
4. Spesific Humidity (W)
Spesific humidity adalah jumlah kandungan uap air di udara yang diukur dalam satuan grains per pound udara, (7000 = 1 pound)dan diplotkan pada garis sumbu vertikal yang ada di bagian samping kanan chart. Relative Humidity (% RH)%RH merupakan perbandingan jumlah actual dan jumlah maksimal (saturasi) dari uap air yang ada pada suatu ruang atau lokasi tertentu. 100% RH berarti saturasi dan diplortkan menurut garis saturasi. Untuk ukuran yang lebih kecil diplotkan sesuai arah garis saturasi. Enthalpi (H) Enthalpi adalah jumlah panas total dari campuran udara dan uap aire di atas titik nol. Dinyatakan dalam satuan Btu/lb udara. Harga enthapi dapat diperoleh sepanjang skala di atas garis saturasi Specific volume (SpV) Specific volume atau volume spesifik adalah kebalikan dari berat jenis, dinyatakan dalam ft3/lb. Garis skalanya sama dengan garis skala bola basah (wet bulb)
Video Perhitungan Tabel Psikometrik
Kelembaban Relatif dan Kelembaban Mutlak
Kelembaban relatif atau kelembaban nisbi didefinisikan sebagai perbandingan antara tekanan parsial uap air yang ada di udara dengan tekanan uap jenuh pada suhu yang sama.

dimana : RH = Kelembaban Relatif (%)
P = Tekanan Parsial uap air pada suhu T (atm)
Ps = Tekanan uap air jenuh pada suhu (atm)
T = Suhu atmosfir (oC)
Dalam keadaan seimbang dengan bahan pangan, maka hubungan antara aktivitas air dengan kelembaban relatif dapat ditulis sebagai berikut :

dimana : RHs = Kelembaban relatif dalam keadaan kesetimbangan (%)
Ps = Tekanan uap jenuh (atm)
Selain kelembaban relatif, dikenal pula kelembaban mutlak (H) yang didefinisikan sebagai besaran yang digunakan untuk menentukan jumlah uap air di udara. Untuk menentukan kelembaban relatif dan kelembaban mutlak dapat digunakan peta psikrometrik (Psychrometric Chart) yaitu suatu peta yang menggambarkan hubungan antara kelembaban udara dengan suhu dan entalpi. Berbagai alat pengukur kelembaban relatif yang secara langsung dapat digunakan dengan ketelitian cukup tinggi antara lain Sling psychrometer dan higrometer.
BAB 5 - Kandungan Air Keseimbangan (Equilibrium Moisture Content)
Han Oktariansyah ~ 05021181520015
Syaeful Arifin ~ 05021181520014
Wahyu Surya ~ 05021381520058
Cindy Claudia ~ 05021381520049
KANDUNGAN AIR KESEIMBANGAN (EquilibRium Mouisture Content)
Kadar air kesetimbangan (Me) merupakan fungsi dari temperature, dan juga merupakan fungsi dari kelembaban nisbi. jika kelembaban nisbi semakin rendah, maka semakin rendah juga kadar air kesetimbangan. suatu bahan terdiri dari bahan tersebut dan air yang dikandungnya. jadi massa total bahan adalah massa bahan tersebut (disebut massa kering) ditambah dengan massa air yang dikandungnya.
Kandungan air (Moisture content) MC dalam suatu bahan adalah massa air yang dikandung dibagi dengan massa total, moisture content ini disebut sebagai MC basis basah. Sedangkan MC basis kering adalah massa air yang dikandung dibagi dengan massa kering bahan. Terdapat tiga jenis air yang dikandung oleh suatu bahan yaitu air hydrasi, air terikat dan air bebas.
1. Air Hydrasi adalah air yang secara kimia terikat dengan bahan pada umumnya tidak
dimasukkan dalam kandungan air, tapi dianggap sebagai bagian integral dari bahan. Jadi pada umumnya masa air ini termasuk kedalam massa kering.
2. Air terikat adalah air yang diikat oleh bahan karena adanya efek kapiler dan ikatan hydrogen, gaya van der waals dan ikatan-ikatan ion dan polar.
3. Air bebas adalah air yang dikandung oleh bahan dan terlarut dalam bahan karena adanya rongga dan kapiler yang lebar dalam bahan. Jadi kandungan air yang paling kuat diikat oleh bahan, bahkan disebut sebagai bagian integral bahan adalah ar hydrasi. Sedangkan yang diikat secara lebih lemah adalah air terikat, tekanan uap dari air yang dikandung ini kurang dari tekanan uap air murni. dan tentu saja kandungan air yang paling diikat paling
lemah oleh bahan adalah air bebas.
Tekanan uap kandungan air ini adalah sama dengan tekanan uap dari air murni. Jika suatu bahan disimpan dalam suatu tempat pada suhu dan kelembaban relatif RH yang konstant maka kadar air bahan tersebut akan menuju suatu keseimbangan dengan lingkungannya. Kadar air ini disebut sebagai kadar air keseimbangan (Equilibrium Moisture Content = EMC). jadi EMC adalah kandungan air dari suatu bahan yang disimpan di suatu tempat dalam jangka waktu yang tak terhingga. seperti disebutkan diatas, EMC ini tergantung pada suhu dan RH lingkungan. Jika suatu bahan yang sudah mencapai keseimbangan dengan suatu lingkungan dipindahkan ke lingkungan dengan suu yang atau RH yang berbeda maka bahan tidak berkeseimbangan dengan lingkungan tersebut. misalnya jika lingkungan yang baru tersebut lebih panas atau RH lebih kecil maka air dalam bahan akan menguap atau MC-nya akan turun dan dalam waktu yang tak hingga akan mencapai EMC baru.
2. Air terikat adalah air yang diikat oleh bahan karena adanya efek kapiler dan ikatan hydrogen, gaya van der waals dan ikatan-ikatan ion dan polar.
3. Air bebas adalah air yang dikandung oleh bahan dan terlarut dalam bahan karena adanya rongga dan kapiler yang lebar dalam bahan. Jadi kandungan air yang paling kuat diikat oleh bahan, bahkan disebut sebagai bagian integral bahan adalah ar hydrasi. Sedangkan yang diikat secara lebih lemah adalah air terikat, tekanan uap dari air yang dikandung ini kurang dari tekanan uap air murni. dan tentu saja kandungan air yang paling diikat paling
lemah oleh bahan adalah air bebas.
Tekanan uap kandungan air ini adalah sama dengan tekanan uap dari air murni. Jika suatu bahan disimpan dalam suatu tempat pada suhu dan kelembaban relatif RH yang konstant maka kadar air bahan tersebut akan menuju suatu keseimbangan dengan lingkungannya. Kadar air ini disebut sebagai kadar air keseimbangan (Equilibrium Moisture Content = EMC). jadi EMC adalah kandungan air dari suatu bahan yang disimpan di suatu tempat dalam jangka waktu yang tak terhingga. seperti disebutkan diatas, EMC ini tergantung pada suhu dan RH lingkungan. Jika suatu bahan yang sudah mencapai keseimbangan dengan suatu lingkungan dipindahkan ke lingkungan dengan suu yang atau RH yang berbeda maka bahan tidak berkeseimbangan dengan lingkungan tersebut. misalnya jika lingkungan yang baru tersebut lebih panas atau RH lebih kecil maka air dalam bahan akan menguap atau MC-nya akan turun dan dalam waktu yang tak hingga akan mencapai EMC baru.
Aktivitas air (AW) menunjukkan jumlah air bebas di dalam pangan
yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya. Nilai aw pangan dapat
dihitung dengan membagi tekanan uap air pangan dengan tekanan uap air murni.
Jadi air murni mempunyai nilai aw sama dengan 1. Nilai AW secara praktis dapat
diperoleh dengan cara membagi % RH pada saat pangan mengalami keseimbangan
kadar air dibagi dengan 100. Sebagai contoh, jika suatu jenis pangan mempunyai
AW = 0,70, maka pangan tersebut mempunyai keseimbangan kadar air pada RE 70%,
atau dengan perkataan lain pada RE 70% kadar air pangan tetap.
Proses kesetimbangan kadar air akan berjalan secara otomatis,
karena itu sifat ini sangat penting pada proses pengeringan. Dalam arti,
penentuan kadar air yang dilakukan pada saat pengeringan, harus disesuaikan
dengan kondisi lingkungan tempat bahan akan disimpan, mengingat pada akhirnya
kadar air bahan tersebut akan mencapai kesimbangan. Dengan demikian, proses
pengeringan dapat berlangsung secara efisien.
Kadar air
dan kelembapan ruang penyimpanan merupakan faktor penyebab kerusakan fisika
yang harus selalu diperhatikan selama penyimpanan. Kadar air pakan biasanya
menyesuaikan diri dengan kelembapan lingkungan, hingga terjadi kesetimbangan
antara kadar air pakan dan kelembapan lingkungan. Cairan di dalam pakan akan
tertarik keluar apabila kelembapan lingkungan penyimpan relatif rendah. Kadar
air dan kelembapan merupakan pemicu tumbuhnya jamur dan serangga. Jamur dan aktifitas
serangga pada pakan akan meningkatkan suhu lingkungan
Pada tahun 1871 Kelvin membuat model penyerapan
kadar airbahan padat dengan menganggap pencairan secara kapiler didalam pori –
pori. Hubungan antara tekanan uap pada cairan secara kapiler (Pv)
dan tekanan uap jenuh pada suhu yang sama (Pvs) adalah dasar teori
pencarian kapiler.
ln (Pv/ Pvs) = –
(2 τ V Cos α / r Ro Tabs)
Persamaan Langmuir, persamaan ini menjelaskan bahwa penyerapan lapisan
tunggal dari uap air pada permukaan bagian dalam kulit bijian dalam terminology
gaya – gaya kimia yang tidak seimbang.
V= Vm (h Pv / l +h Pv)
Keterangan:
V= volume uap air yang diserap secara isothermal oelh
bijian
Vm= volume
uap air yang diserap saat permukaan bijian tertutup penuh molekul lapisan
tunggal
Persamaan BET, yaitu
permukaan bagian dalam kulit bijian dianggap sebagai susunan sisi penyerapan
spesifik dan setiap sisi mampu menyerap lebih dari satu molekul air.
Pv/ V (Pvs – Pv) = (l/ Vmc)
+ (c – 1/ Vmc) (Pv/ Pvs)
Keterangan:
C= konstanta produk
Persamaan Harkins – Jura, yaitu total kerja yang
diperlukan untuk menyerap atau melepas suatu molekul dapat dianggap samadengan
jumlah kerja yang diperlukan oleh suatu molekul uap untuk mengatasi kekuatan
medan, ditambah kerja untuk kondensasi.
ln (Pv/ Pvs) = d – (e/V2)
Keterangan:
d dan e= konstanta
produk
Persamaan GAB, yaitu persamaan penyerapan isothermal GAB dikembangkan darii
teori penyerapan fisik Langmuir dan BET.
M = (Mm g f) / [(1 – f Pv/
Pvs) ((1 – f Pv/ Pvs + gf Pv/
Pvs)
Persamaan Henderson,
yaitu suatu bentuk hubungan penentauan EMC bijian.
1 – Pv/ Pv =
exp (-h Tabs Mi)
1 – Pv/ Pv =
exp [-K (T + C) (100 M)N]
Persamaan Chung, yaitu sering digunakan untuk
memperkirakan nilai – nilai EMC untuk bijian.
M = E – F ln [- (T + C) ln (Pv/
Pvs)]
BAB 2 - PENGERINGAN BIJI - BIJIAN
Syaeful Arifin ~ 05021181520014
Wahyu Surya ~ 05021381520058
Cindy Claudia ~ 05021381520049
PENGERINGAN BIJI - BIJIAN
Sebelum kita masuk materi pengeringan biji - bijian, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu pengeringan biji - bijian.
Pengeringan biji-bijian merupakan proses pengurangan kandungan air yang terdapat dalam biji-bijian tersebut. penanganan pasca panen ini telah dikenal dari zaman dahulu. Pada zaman dahulu pengeringan biasanya digunakan untuk memperlama proses pembusukan atau mengawetkan bahan pangan agar dapat dikonsumsi ketika musim tertentu. Pada masa sekarang selain bertujuan untuk meningkatkan umur simpan dari hasil pertanian dan juga menaikkan harga jual dari hasil pertanian tersebut. Penurunan kandungan air pada biji-bijian akan menghambat pertumbuhan mikroba dan kerusakan pangan oleh enzim, inilah kenapa biji-bijian yang telah dikeringkan dapat disimpan lebih lama pada suhu ruang dibandingkan dengan biji-bijian segar yang masih banyak mengandung air. Sehingga dengan pengeringan, penurunan mutu pada biji-bijian dapat diperlambat.
Proses Pengeringan
Terdapat tiga kategori pengeringan, sebagai berikut :
1. Pengeringan Pada Tekanan Atmosfir
Pengeringan pada tekanan atmosfir dapat didefinisikan sebagai penggunaan pans pada keaddan terkendali untuk membuang kandungan air yang ada pada bahan dengan cara penguapan.
2. Pengeringan Vakum
Pengeringan vakum merupakan pengeringan yang dilakukan pada kondisi vakum. pada pengeringan ini penguapan air terjadi lebih mudah karena berada pada tekanan rendah sehingga energi panas yang diperlukan untuk proses pengeringan tidak sebanyak pada tekanan atmosfer.
3. Pengeringan Beku
Pengeringan beku dilakukan dengan cara membekukan bahan terlebih dahulu setelah itu kandungan air yang terdapat pada bahan diuapkan melalui proses sublimasi pada tekanan rendah.
Kadar Air
Kadar air suatu bahan menunjukkan banyaknya kandungan air persatuan bobot bahan yang dapat dinyatakan dalam persen berat basah (wet basis) atau dalam persen berta kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai teoritis sebesar 100 %, sedangkan kadar air berat kering dapat lebih dari 100 %. Kadar air berat basah (bb) adalah perbandingan antara berat air yang ada dalam bahan dengan berat total bahan.
Pengeringan biji-bijian merupakan proses pengurangan kandungan air yang terdapat dalam biji-bijian tersebut. penanganan pasca panen ini telah dikenal dari zaman dahulu. Pada zaman dahulu pengeringan biasanya digunakan untuk memperlama proses pembusukan atau mengawetkan bahan pangan agar dapat dikonsumsi ketika musim tertentu. Pada masa sekarang selain bertujuan untuk meningkatkan umur simpan dari hasil pertanian dan juga menaikkan harga jual dari hasil pertanian tersebut. Penurunan kandungan air pada biji-bijian akan menghambat pertumbuhan mikroba dan kerusakan pangan oleh enzim, inilah kenapa biji-bijian yang telah dikeringkan dapat disimpan lebih lama pada suhu ruang dibandingkan dengan biji-bijian segar yang masih banyak mengandung air. Sehingga dengan pengeringan, penurunan mutu pada biji-bijian dapat diperlambat.
Proses Pengeringan
Terdapat tiga kategori pengeringan, sebagai berikut :
1. Pengeringan Pada Tekanan Atmosfir
Pengeringan pada tekanan atmosfir dapat didefinisikan sebagai penggunaan pans pada keaddan terkendali untuk membuang kandungan air yang ada pada bahan dengan cara penguapan.
2. Pengeringan Vakum
Pengeringan vakum merupakan pengeringan yang dilakukan pada kondisi vakum. pada pengeringan ini penguapan air terjadi lebih mudah karena berada pada tekanan rendah sehingga energi panas yang diperlukan untuk proses pengeringan tidak sebanyak pada tekanan atmosfer.
3. Pengeringan Beku
Pengeringan beku dilakukan dengan cara membekukan bahan terlebih dahulu setelah itu kandungan air yang terdapat pada bahan diuapkan melalui proses sublimasi pada tekanan rendah.
Kadar Air
Kadar air suatu bahan menunjukkan banyaknya kandungan air persatuan bobot bahan yang dapat dinyatakan dalam persen berat basah (wet basis) atau dalam persen berta kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai teoritis sebesar 100 %, sedangkan kadar air berat kering dapat lebih dari 100 %. Kadar air berat basah (bb) adalah perbandingan antara berat air yang ada dalam bahan dengan berat total bahan.
Kadar air berat basah dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

dimana : m = Kadar air berat basah (%bb)
Wm = Berat air dalam bahan (g)
Wd = Berat padatan dalam bahan (g) atau berat bahan kering mutlak
Wt = Berat total (g)
Kadar air berat kering (bk) adalah perbandingan antara berat air yang ada dalam bahan dengan berat padatan yang ada dalam bahan. Kadar air berat kering dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

dimana : M = Kadar air berat kering (%bk)
Wm = Berat air dalam bahan (g)
Wd = Berat padatan dalam bahan (g) atau berat bahan kering mutlak
Berat bahan kering mutlak adalah berat bahan setelah mengalami pengeringan dalam waktu tertentu sehingga beratnya konstan. Pada proses pengeringan, air yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan, meskipun demikian hasil yang diperoleh disebut juga sebagai berat bahan kering.
Contoh Soal
Berapa jumlah air yang terdapat dalam 1 ton kedelai yang berkadar air 25 % (b.b) ? dan berapa kadar air kedelai tersebut bila dinyatakan dalam % b.k ?
Penyelesaian :

Di dalam analisis bahan pangan, biasanya kadar air bahan dinyatakan dalam persen berat kering. Hal ini disebabkan perhitungan berdasarkan berat basah mempunyai kelemahan yaitu berat basah bahan selalu berubah-ubah setiap saat, sedangkan berat bahan kering selalu tetap. Metode pengukuran kadar air yang umum dilakukan di Laboratorium adalah metode oven atau dengan cara destilasi. Pengukuran kadar air secara praktis di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan moisture meter yaitu alat pengukur kadar air secara elektronik.
BAB 1 - Pendahuluan


Syaeful Arifin ~ 05021181520014
Wahyu Surya ~ 05021381520058
Cindy Claudia ~ 05021381520049
Bidang pertanian menghasilkan produk pertanian yang beragam mulai dari sayur – sayuran, buah – buahan, biji – bijian dan lain – lain. Hasil pertanian tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi keperluan dan kebutuhannya. Hasil atau produk pertanian memiliki mutu yang beragam, dari mutu yang rendah, menengah hinga yang tinggi. Pengoptimalan hasil pertanian dapat dilakukan melalui pengolahan yang baik sehingga menambah nilai estetika dari produk tersebut. Aplikasi teknik pengolahan hasil pertanian merupakan solusi untuk permasalahan tersebut.
Pengeringan adalah proses perpindahan massa air dari suatu zat padat atau semi padat dengan menggunakan penguapan. Proses ini merupakan tahap akhir dari proses produksi sebelum dikemas. Produk yang telah dikeringkan akan menjadi produk yang padat dalam wujud bubuk maupun potongan besar meski bahan awal sebelum pengeringan adalah benda semi padat. Sumber panas dan cara penghantaran panas dibutuhkan dalam pengeringan. Tujuan dari proses pengeringan untuk mencegah pertumbuhan bakteri sehingga mutu dari suatu produk akan lebih bertahan lebih lama.
Produksi, Pengawetan dan Perdagangan Bijian
Biji-bijian di beberapa tempat dianggap sebagai bahan pangan dan makanan pokok. oleh sebab itu kita perlu memproduksi, mengawetkan dan memasarkan biji-bijian secara optmal. bab ini merupakan pengantar mengenai produksi biji-bijian, teknik pengawetan biji-bijian, dan arah pemasaran biji-bijian. Pengertian biji-bijia
n adalah sangat luas, dan meliputi biji-bijian serealia (jagung, gandum, beras, gandum untuk bahan bir, sorgum dan millet), bijian polong atau kacang-kacangan. Jagung, padi, dan gandum adalah jenis biji-bijian utama dan merupakan pokok sejak zaman sebelum Masehi.
n adalah sangat luas, dan meliputi biji-bijian serealia (jagung, gandum, beras, gandum untuk bahan bir, sorgum dan millet), bijian polong atau kacang-kacangan. Jagung, padi, dan gandum adalah jenis biji-bijian utama dan merupakan pokok sejak zaman sebelum Masehi.
Produksi Bijian
Produksi bijian tahunan dunia antara 1950 dan 1988 terjadinya peningkatan produksi tiap tahunnya sekitar 62 juta metrik ton menjadi 1645 juta metrik ton (Brown, 1988). Dari tahun 1984 sampai 1988, produksi berkurang karena kekeringan, erosi tanah, dan perubahan penggunaan lahan pertanian untuk keperluan non-pertanian. Konsumsi bijian dunia perkapita per tahun dari 1950 sampai 1988 terjadinya konsumsi mencapai puncak 345 Kg pada tahun1984. kemudian turun menjadi lebih kecil dari 300 Kg pada tahun 1988 untuk pertama kaliinya sejak tahun 1977.
Jumlah total sekitar 1850 juta metrik ton. Gandum, jagung dan padi merupakan tanaman utama dalam hal jumlah berat. Amerika memproduksi hampir setengah jumlah produksi jagung dunia. Benua Asia terutama mengusahakan gandum dan padi. Benua Amerika kebanyakan mengusahakan jagung dan sergum. Gandum hitam merupakan tanaman popuer di Eropa, sedang millet populer di Asia dan Afrika.
Pengawetan Bijian
Bijian serng dipanen pada kadar air yang terlalu tinggi untuk penyimpanan yang aman. Bijian semacam ini disebut bijian berkadar air tinggi. Perlakuan awal terhadap bijian yang baru dipanen adalah langkah penting untuk menghindarkan penurunan kualitas akibat pertumbuhan jamur. Beberapa perlakuan pasca panen yang tersedia untuk menjamin pengawetan bijian jangka pendek dan jangka panjang, meliputi penyimpanan kedap, perlakuan kimia, pendinginan dan pengeringan. Pengeringan bijian adalah metoda pengawetan bijian yang paling banyak digunakan.
Penyimpanan Kedap
Bijian segar yang baru dipanen dapat disimpan dengan aman untuk makanan ternak pada silo kedap gas. Respirasi bijian dan mikroorganisme dengan cepat menurunkan kadar oksigen dari udara antar bijian, dari 21% menjadi lebih kecil dari 0.02% pada saat yang sama, fermentasi menyebabkan penurunan pH bijian. Mikroorganisme tidak bisa berkembang pada lingkungan semacam ini karena kekurangan oksigen dan kondisi keasaman yang tinggi.
Kandungan air berdasar berat basah yang dianjurkan untuk penyimpanan kedap pada jagung adalah 24 - 25%, untuk gandum hitam dan oats (sejenis gandum) adalah 19 - 20%. (Lubinus, 1982). Pengisian dengan cepat dan penutupan yang tepat pada silo penting sekali untuk menghindarkan kerusakan bijian. Selama pengosongan silo, jumlah udara yang masuk tempat penyimpanan diusahakan minimum dengan menggunakan ulir pengosongan yang dirancang khusus. Bijian yang dipindah dari tempat penyimpanan kedap harus segera digunakan dalam waktu 24 jam untuk menghindari kerusakan, oleh sebab itu dilarang diperdagangkan dipasar bebas. Pengeringan kedap tidak sesuai untuk biji yang akan digunakan sebagai benih karena perkecambahan biji akan turun secara cepat pada penyimpanan kedap. Penyimpanan bijian pada kadar air tinggi memungkinkan panen awal tanpa memerlukan biaya pengeringan. Bijian dengan kadar air tinggi merupakan pilihan yang lebih efisien untuk peternakan dibanding bijian yang telah dikeringkan.
Perlakuan Kimia
Perlakuan pada bijian dengan kadar air tinggi menggunakan bahan kimia menimbulkan lingkungan yang bersifat asam di dalam massa bijian sehingga mencegah timbulnya jamur. (Pomeranz, 1982). Bahan kimia yang paling umum digunakan adalah asam propionic dan asam asetat. Jika asam tersebut dicampur dengan bijian, jamur yang ada disekitar tempat penyimpanan dan didalam tempat penyimpanan akan terbunuh, pH menjadi lebih rendah sampai 4.0 - 4.5, dan kelangsungan hidup benih menjadi rusak. (Hall et al., 1974). Terdapat bukti bahwa asam tersebut juga menyediakan energi yang langsung dapat dicerna oleh hewan memamah biak dan meningkatkan efisiensi pemberian makanan. (Eckhoff, 1985).
Selain asam propionic dan asam asetat, amonia juga telah digunakan sebagai penghambat timbulnya jamur pada jagung berkadar tinggi. (Eckhoff, 1984). Sodium hidroksida (soda api) dan urea juga digunakan di Eropa Barat untuk perlakuan terhadap bahan pangan barley (Lotz, 1983). Bahan kimia juga dapat berfungsi sebagai zat pengawet sementara selama proses pengeringan secara perlahan pada jagung. (Hsieh and Bakker-Arkema, 1980).






